#5BukuDalamHidupku BELUM ADA JUDUL

Sudah berapa puluh kali aku menceritakan kepada orang-orang, tentang apa isi dari buku ini. Buku ini bukan cerpen, bukan novel, bukan juga pemenang Nobel. Renungkan.

Judul: Sebut saja judulnya, "Kumpulan Puisi Silvia Jilid 3"
Penulis: Silvia Widyasari
Penerbit: Tangan Kananku
Ukuran: Buku tulis "Kiky"
Tebal: Setebal buku tulis standard
Terbit: Di tumpukan buku renta

Penasaran? Nanti akan aku tunjukkan bagaimana penampakan dari buku tulisanku itu. Buku yang sekarang lusuh, dan halamannya sudah berpeluh. Buku yang tidak penting di mata orang-orang, dan aku juga tidak keberatan bila banyak yang mengatakan demikian. Mungkin aku terlalu percaya diri dengan memasukkan buku seperti ini dalam proyek #5BukuDalamHidupku yang diadakan oleh mas Irwan Bajang ini. Aku minta maaf, bukan maksud hati bersombong diri, ataupun berusaha mencari muka atas hasil karyaku sendiri. Bila di atas tertulis kalau yang aku sebutkan ini adalah jilid 3, pasti banyak yang mempertanyakan, kemana perginya dua buku lainnya? Entahlah. Aku yang menulisnyapun tidak pernah tahu kemana keberadaannya sekarang. Mungkin bila buku itu baru hidup di zaman kecanggihan teknologi, aku pasti sudah membekalinya dengan telepon genggam, agar mudah aku lacak keberadaannya. Tidak cemas akan kepergiannya, yang tidak kunjung pulang sampai hari ini. Atau perlu aku mencarinya ke barat bersama Su Pat Kay dan Sun Go Kong? Atau mungkin memakai cara yang sedang dianggap hebat di hari ini, memakai teknologi “Orang Pintar” agar dianggap up-to-date dan malah mungkin akan bisa membuatku memenangkan kursi di DPR.

Jadi intinya, dua buku sebelum buku ini sudah tidak berada di tanganku lagi. Aku sempat bertanya-tanya kemana perginya? Aku menangis, tidak mau makan dan minum, aku menderita bagaikan kehilangan separuh jiwaku. Tapi ya sudahlah, aku pikir, aku masih bisa menulis puluhan buku lainnya nanti. Walau kenyataannya sampai hari ini aku belum menelurkan satu bukupun. Mungkin pembaca yang budiman menilai bahwa aku adalah sang pemimpi andal, aku pengkhayal kelas wahid. Namun aku pikir, aku tidak sehebat itu. Aku baru menjejaki kaki di atas tanah, setelah sekian lama berusaha berleha-leha di dunia yang tidak aku suka. Disediakan dipan sutra empuk buatan Irlandia atau Argentina. Aku tidak tahu juga darimana asalnya. Aku pikir, aku hanya seorang pemikir balita. Seperti yang tercantum di biodata, aku wanita dewasa berkelakuan seperti balita. Tapi lihatlah aku lebih dekat, aku tidak sekerdil di dalam pemikiran banyak orang. Mengapa aku berceloteh demikian? Pasalnya, hal itu semua adalah alasanku menulis. Aku suka menulis. Aku suka bicara. Aku suka bercerita. Aku suka mengembara. Aku suka mengubah jalan cerita sebuah film. Aku suka mengkritik film yang aku anggap tidak berkualitas, walau sebenarnya aku tidak mengerti apa-apa soal dunia perfilman. Yang aku tidak suka, aku tidak suka bila orang tidak tulus bersikap di hadapanku, apalagi bila aku diberi senyum di depan, tapi dicerca dan dimaki di belakang. Lebih baik, ludahi mukaku, lalu kita saling tuja dengan belati.

Hidupku bukan hidup yang susah, aku bukan anak tidak punya, aku berasal dari keluarga yang pernah menjadi yang tidak punya. Semua orang pasti begitu, bila ingin maju. Berasal dari ketidakpunyaan, berusaha, sampai akhirnya memiliki apa yang dia inginkan memilikinya. Namun tidak indahnya, aku bukan keturunan konglomerat, aku bukan keturunan pemain drama kelas berat, atau sang pujangga cinta aristokrat. Aku hanya anak dari dua insan yang saling mencinta, walau tahu kelemahan masing-masing dan seringkali saling hina. Ibu kandung sudah tak ada, sejak aku menghitung umur 365 hari ditambah setengahnya. Aku tidak ingat bagaimana rasanya berada di bawah ketiak beliau. Aku tidak ingat bagaimana bunyi kentutnya yang mendesau. Meski phapha sering bilang bahwa mama adalah wanita hebat, aku tidak pernah bisa membayangkan dirinya secara nyata dan mengingatnya dalam logika untuk membayangkan mama memakai baju Superman atau superhero lainnya. Aku hanya berbekal ingatan di lembaran kertas usang, yang sekarang tersimpan rapi di almari ayahanda. Aku tidak boleh lama melihatnya, takut terjerumus ke dalam merana katanya.

Tapi aku bukan seorang piatu. Aku memiliki ibu, yang anehnya punya tahi lalat dengan letak yang sama di dekat pusar. Mungkin karena itu, beliau juga indah dilihat sepertiku. Mamaku yang ini baik hati, phapha menikahinya saat umurku lima. Ini rahasia kita ya, karena phapha nanti marah bila aku bercerita panjang lebar tentang kehidupan keluarga. Walau bagiku ini bukan aib yang harus ditutup-tutupi. Seperti keluarga yang menutupinya dari aku, atau adikku. Mungkin dua paragraf ini nanti akan aku hapus, agar menjaga kerahasiaannya tidak sampai ke adikku tercinta (Semoga mas Irwan berkenan dan mau mengerti.) Aku menuliskannya karena itulah intinya. Jadi tidak akan ada pertanyaan, kenapa aku tulis bila akhirnya akan dihapus juga?

Isi buku itu? Bukan apa-apa. Tidak penting untuk diceritakan. Tidak akan mengubah apapun dari hidup para pembaca sekalian yang budiman. Buku kumpulan puisi karanganku ini asli berasal dari otak liarku. Berasal dari hidup sehari-hariku. Aku tidak mengerti mengapa aku berada di sini saat ini, detik ini, tanggal 12 bulan November 2013 ini. Di sebuah tempat yang aku tidak kenal nama pemiliknya. Itulah alasanku, mengapa aku tulis buku ini. Aku sudah mencintai menulis mungkin sejak masih dalam kandungan. Sering bertanya-tanya, aku keturunan siapa? Mengapa aku sudah mencintai dunia sastra sejak belum ada usia? Bila Tuhan mengizinkan, aku akan membawa kalian memakai laci waktu Doraemon ke masa lalu, saat tulisan tanganku acak-acakan, saat bahan tulisannya hanya seputar film kartun Doraemon itu sendiri, Sailormoon, atau Siluman Ular Putih. Tentu kalian masih ingat pula film “The Legend of Condor Hero” atau serial telenovela SCTV yang bercerita itu-itu saja. Itulah topik tulisan dan puisiku.

Aku sering menuliskan apa saja yang aku lihat. Bagiku, dunia itu berbicara. Bumi ini memiliki ceritanya asing-masing, dan bila kita dengarkan dengan seksama, mereka mengantarkan banyak imajinasi kenyataan. Bukan hanya cerita cinta atau topik lainnya yang biasa. Buku yang lain mungkin ada banyak. Selain buku ini, aku juga menulis di notes-notes kecil yang lucu, yang memiliki warna mengundang rasa, memiliki unsur yang aku tidak dapat ceritakan mengapa aku suka padanya. Yang lebih anehnya aku juga menulisa di sisi belakang buku pelajaran. Boleh tanyakan pada uni-uni ku yang dulu sering protes melihat banyak coretan di bukuku, ketika buku uni-uni ku itu rapi, bersih dan terawat. Bah! Aku benci kerapian, itu memuakkan. Hal itu aku tumpahkan di tulisan-tulisanku.

Lihat saja kamarku, berantakan dan berisi berbagai macam hiasan tidak beraturan. Kadang ada botol kosong, ada pula bekas pulpen yang masih tersisa setengah, atau kumpulan benda lain yang aku anggap unik dan sayang untuk dibuang. Itu membuat aku bingung, mau diletakkan dimana lagi benda-benda tersebut? Sehingga aku putuskan untuk membiarkannya saja mencari tempatnya sendiri. Dia memiliki titik nyaman untuk berdiam diri di dalam kamarku yang sepi. Kamarku tidak selalu sepi, dia ramai serigkali. Apalagi ketika suara phapha mama sudah terdengar, banyak umpatan, sumpah serapah dan hinaan terlontar. Kamarku sering menangis. Dia senang bersedih hati sendiri, dan keluar dengan wajah yang telah ceria kembali. Oleh karena itu aku selalu mewarnai dindingnya berwarna biru. Puluhan kali aku dan keluarga pindah rumah, dan aku selalu menuntut orang tua untuk mewarnai kamarku dengan warna yang sama. Biru. Padahal aku suka warna hitam. Tapi aku kan tidak boleh egois, itu kan permintaan kamarku. Ya sudah, aku manjakan dia, sesuai permintaannya.

Bahkan kamarpun dimanja, namun pemiliknya tidak kurasa. Apalagi setelah kehadiran adik bungsu yang sekarang telah beranjak dewasa. Aku kehilangan pamor, turun rating pada deretan bintang-bintang. Aku kalah, walau aku bukan pemenang dari awal. Aku yang paling bandel, paling banyak membuat onar. Aku wanita sembrono yang malas. Kerjaku hanya bermalas-malas dengan berbagai jenis buku di tanganku. Aku penasaran dengan banyak hal. Mulai dari majalah Bobo, Kawanku, Aneka Yess, Gadis, Kartini, hingga majalah Misteri atau Hidayah. Aku juga membaca tabloit gosip seperti Nova dan berbagai judul lainnya. Aku pula senang bermanja-manja mata hanya dengan melihat sekumpulan gambar goresan tangan orang Jepang, mulai dari komik Sailormoon, Detektif Conan, Nube, hingga Crayon Shincan.

Awal mula munculnya teenlit mungkin adalah awal aku beranjak dewasa pula, hingga aku mengenal cinta. Itulah topik utama yang merangkul segala cerita yang aku ceritakan di atas. Namun bukan cinta dengan titik, karena ini bukan karya ternama. Ini hanya sekumpulan pelesir mimpi selama aku hidup. Dan selama itu cinta akan selalu memakai koma. Kita tidak mungkin berhenti mencinta bukan? Walau hanya dalam perjalanan mimpi. Buku puisi sederhana, dengan isi yang tidak penuh dengan kata-kata indah. Buku coretan tangan sendiri, berisi berbagai macam topik cerita dan tentang apa saja. Aku terus mencoba membalutnya dengan cinta. Dan kata yang tidak semua orang mengerti makna sebenarnya, atau tentang apa isinya. Hanya aku dan Tuhan yang mengetahui apa yang aku maksud. Kadang dua topik aku ceritakan dalam satu puisi, lalu aku baur dan aku hancurkan jadi satu. Untuk aku baca lagi, lalu aku jadikan refleksi diri. Bukan hanya tentang kebaikan, tapi juga belajar jadi orang jahat. Karena hidup tidak hanya diisi oleh kebaikan dan kebahagiaan bukan.

Buku puisi tulisan tanganku ini telah banyak memberi kontribusi dalam perjalanan hidupku. Mengikuti perubahan yang menuliskannya pada buku, telah membuatku ikut belajar. Bukan buku luar biasa, bukan apa-apa dan tidak banyak yang pernah membacanya. Ini adalah satu diantara buku tulis lain yang sekarang telah tiada. Tapi aku yakin di alam sana, mama tahu aku tidak sedang berdusta. Sejauh ini, inilah perjalanan hidupku. Yang aku lihat dari mata dunia dan pengisinya. Atau hanya tentang diriku saja. Karena aku menuliskan buku ini agar tidak terlupa. Atau karena aku hanya egois saja selalu menciptakan dunia dan kota di dalam mata?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s